(CINTA) yang menangisi LUKA
Sempat padanya (cinta) ku bertanya. Gerangan apa dia (cinta) menangis? Jawabnya luka pergi dan menghilang. Kutanya kemana? Jawabnya tak tahu. Aku merasa heran./Mengapa kau menangis? Harusnya kau bahagia./ Tak ada luka maka kau (cinta) akan menjadi utuh tak tergores, takkan pernah meneteskan air mata. /Takkan ada sedih hanya tawa. Dia (cinta) diam dan tersenyum pahit. Kau Tanya mengapa? Jawabnya kau pun tahu, katanya: aku (cinta) takkan sempurna jika tak bersama luka./ Karena luka yang mengajarkan seperti apa aku (cinta) yang sesungguhnya./ Tanpa luka aku (cinta) hanya kepalsuan dibalik tawa, aku (cinta) takkan pernah tahu bagaimana cara bangkit dari keterpurukan./ Tanpa luka, aku (cinta) tak pernah sekuat ini. Dia (cinta) balik bertanya. Kau tahu mengapa kau sekuat ini sekarang? Pernahkah kau sadar? Karena ada aku (cinta) dan dia (LUKA)