Posts

Showing posts with the label sakit hati

mari bercerita tentang apa saja #3

 Judul: Menerima Ada saat dimana aku tiba-tiba teringat. Gambaran dirimu yang ku rekam lekat-lekat. Hangat sejenak. Sakit kembali membuatku terentak. Bahagiamu, aku hadir. Sedihmu, aku temani. Menenangkanmu, tugasku. Kehilanganmu (tak ada dalam rencanaku) Hati yang terpatah-patah. Bergantung pada kenangan saja. Tiap bagian dari otakku berharap lupa. Mengais memohon agar aku menyerah. Saling menguatkan, hati dan otak. Tubuh dan pikiran. Saling menyembuhkan, masa lalu dan masa kini. Kenangan dan kenyataan. Sia-sia (sudahlah) Lupakan saja (segala yang terjadi) Kenangan (pahit manis) Rasa yang ada (lenyapkanlah) Pasrahkan (apa yang pernah kaumiliki) Relakan (yang tak pernah ditakdirkan untukmu) Memahami (hidup tak selalu indah) Menerima (apa-apa yang terjadi) Terbakar Menjadi arang Menjadi abu Terhempas Semua yang kau rasa akan hilang Semua yang hilang kan terganti Jakarta, 16 Mei 2021 To: Dear MR

wanita dan kisah yang sama.

dia adalah sesosok wanita tangguh. hatinya sudah kebal dengan luka.bukan sekali, banyak yang menggoreskan luka di sekujur tubuhnya. kadang si wanita bodoh itu sendiripun yang mengukirkan luka. KINI.. dia berusaha bangkit walau terseok-seok. wanita itu kadang bertanya, dosa apa yang dia perbuat hingga tuhan menghukumnya dengan mengirim sejuta harapan kosong, teman penuh kepalsuan atau hanya  cinta yang terlalu tinggi untuk digapai. dunia ini berputar, rotasi sebagaimana mengelilingi matahari. wanita itu selalu memusatkan titik rotasinya, pada cinta yang ia sembah. mungkin itu mengapa tuhan menegurnya?? cintamu harusnya pada ilahi. tapi sebagaimana di al-quran adam tergoda buah khuldi, atau kisah alkitab, dimana ular menggoda adam. wanita itu terbuai cinta. wanita itu sudah punya lilin penerang, yang selalu siap menghangatkannya, tapi desau angin selalu mengancam akan memberi mereka badai, " lilin itu akan membakarmu, atau kami yang akan membakarmu ." - geti...

DARI KURSI PENUMPANG TAXI

Image
Lampu jalanan kota menghantam jendela taksi malam ini, membuat aku terpaku, menatap malam di kota yang mereka sebut “kota bunga’ / Nampaknya malam ini dingin / embun dan kabut menghantam jendela kaca, pak supir bergegas menutup kaca, menyalakan pendingin mobil. Ada pengemis yang menatapku. / Setengah sayu, tapi juga terbakar sedikit semangat, walaupun tidak ditunjukkan oleh pengemis itu secara nyata. / Mungkin takut tidak menarik simpati dan utamanya empati. / Mungkin semangat yang timbul, itu karena ada harapan dalam penantian akan gemerincing kepingan-kepingan logam atau bunyi kertas yang bergesekan / Kertas yang tentunya bergambar pahlawan-pahlawan, yang dahulu tak menengadahkan tangan kepada yang memandang mereka rendah , ‘orang bawahan’ , tapi mereka dahulu menengadahkan pedang, bahkan tombak bambu kepada yang memandang ‘bawah’ mereka. Aku membuka kaca jendela sedikit, memberi recehan-recehan kembalian sisa beli satu cangkir cafee mocha tadi, recehan yang terselip-selip d...