Posts

Showing posts with the label sedih

mari bercerita tentang apa saja #2

Judul: Makna Hidup. aku pikir diriku sudah mengerti, tentang pilihan. bahwa hidup hakikatnya hanya tentang memilih, entah menetap atau beranjak pergi, menerima kehilangan. hampir saja aku jadi manusia sombong merasa sudah mengerti tentang dunia. semua yang terlihat, tak semudah yang dirasa. kini tunai sudah janji pada diriku kenangan dan masa lalu kulepaskan di belakang tanpa terikat sesuatu menerima bahwa tak ada yang abadi, hanya waktu. kita pernah bersama. kita pernah berpisah. kita pernah tertawa. kita pernah bersedih. aku menerima makna hidup sesungguhnya. hidup adalah pusaran waktu, emosi, kenangan kita, manusia. kita pernah bersama. kita pernah berpisah. kita pernah tertawa. kita pernah bersedih. aku menerima makna hidup sesungguhnya. hidup adalah pusaran waktu, emosi, kenangan kita, manusia.

mari bercerita tentang apa saja #1

pada saatnya, kita akan dihadapkan pada hari-hari yang sulit. pada hari ketika hujan turun dengan lebat, hingga sepatu boots-mu tenggelam oleh air selutut. pada hari yang panas, menyengat bahkan saat payungmu terbuka lebar. pada hari yang melelahkan, ketika dokumen kantor menumpuk tak terhingga, hingga pandangan matamu terhalang kertas bertuliskan perintah pimpinan. pada hari yang memuakkan, ketika kau berhadapan dengan orang bebal yang tak bisa kau ajak bicara atau mendengar. pada hari dimana orang terdekatmu mungkin acuh dengan suaramu. pada hari dimana tangisanmu tak terdengar, tenggelam oleh  hiruk pikuk obrolan manusia-manusia di sekitarmu. pada hari-hari lain dimana semua terasa begitu menyulitkan. pada hari-hari itu, ingatlah ini: Baiklah, aku akan memberitahumu: hidup bukanlah tangga berlapis emas. ada paku payung di dalamnya, dan serpihan, dan papan-papan tua yang rapuh dan mencuat setiap kali kau injak, dan tempat-tempat tanpa karpet di lantai- Telanjang...

sebuah perjuangan dan hati di batas keraguan

aku bukannya tidak berjuang. ibarat mendaki gunung, saat ini akupun sedang berusaha. menapaki tapak demi tapak dinding pertahananmu. merobohkannya tak mudah. melewatinya ku berharap dalam-dalam. dinding ini yang kau bangun dengan tinggi dan kokoh dikarenakan kau sedang terluka. luka yang orang lain buat. maupun luka yang aku buat. aku sedang merobohkan dinding pertahananmu a man with a heart of a fragile little man, with all those scars and distrust. ya, hal terberat adalah meruntuhkan batasmu denganku: luka dan ketidakpercayaanmu. segala keraguanmu. terarah padaku. kucoba dengan segala cara; berjalan, berlari, merangkak, memanjat. berusaha menemukan setiap celah. …………………. lalu aku tergelincir di tempat yang sama di celah antara inti hatimu yang dibatasi keraguanmu kepadaku. sungguhpun kaki ini terluka, sakit karena harus melalui  segala rintangan itu entah mengapa aku masih berusaha. kulihat puncak gunung. kulihat ka...

bungkam rasa & aku

bungkam rasaku tuhan. matikan seluruh inderaku. karena seluruh inderaku mencintainya dengan cara-cara yang penuh pengabdian, sebuah ketulusan tanpa harap balas. mata. telinga. lidah. hidung. kulit. aku memandang, mendengar, mengecap, mencium, meraba - dengan penuh dengan menyeluruh dengan segenap. sosokmu. bungkam luapan rasa, buatku amnesia. bahkan dalam diam terlintas dia. sinis dan konyol. terlebat bayang demi bayang. bungkam rasaku: hanya ada ragaku rasaku yang waktu adalah luluhlantakkan utuhku yang olehmu - karenamu kulebur dalam sendu kuat terpagu. hanya ada ragaku rasaku yang waktu adalah luluhlantakkan untukku yang olehmu :karenamu kulebur dalam sendu kuat terpagu [gema dalam ruang sendu kalbu]

candu rindu

jika kerinduan adalah pemicu candu. maka biarkanlah aku menjadi candu. apalah dayaku. biarkan kerinduan ini menyiksaku, atau membuatku ‘terbunuh’ tidak ada yang mampu berkata tidak pada rindu. seperti kini aku. apalah dayaku? biarkan rindu memasuki tubuhku. membisikkan-nya pada jiwaku. biarkan rindu memasuki sel darahku, membius syarafku. jika rindu adalah morfin. maka biarkan sayang. biarkan aku terbius dan koma. jika rindu adalah adrenalin. biarkan darah terpompa pada jantungku. aku sekarat sayang. aku tersiksa rindu. jika saja aku mampu menyampaikan rasa rindu ini mungkin semua mudah, tapi tidak tanganku kelu. Bibir terpagut diam. aku sanksi kau merasakan yang sama. jika rindu ini adalah penjara, maka aku tahanan yang dihukum untuk selamanya. tapi biarlah mungkin tuhan sedang menghitung-hitung seberapa besar aku mampu menahan, seberapa kuat aku. biarkan rindu ini membunuhku, lalu jiwaku mati dalam diam. biarkan rindu ini...

malam, resah emosi jiwa adinda.

semarang, 25 mei 2016 12:17 am senjaku berbatasan dengan udara dan suara. kebisingan mengaum karena rindu yang begitu syahdu. lelakiku adalah kamu. adalah aku di antara mengagumi atau rasa ingin memilikimu tanda sudah dungu ataukah mati amygdala-ku sayang. semarang ambon dipisahkan kata-kata tak bersuara. aku ini wanitamu.yang mengagumimu. selayaknya laut dengan bena, dihembus sang angin. nirvana.ankara.buta suara.puisi-pusi yang tak pernah sampai di telinga.hilang di jurang gunung tertinggi hingga laut terdalam nusantara. judul: malam, resah emosi jiwa adinda.