Posts

Showing posts with the label pasangan

sebuah perjuangan dan hati di batas keraguan

aku bukannya tidak berjuang. ibarat mendaki gunung, saat ini akupun sedang berusaha. menapaki tapak demi tapak dinding pertahananmu. merobohkannya tak mudah. melewatinya ku berharap dalam-dalam. dinding ini yang kau bangun dengan tinggi dan kokoh dikarenakan kau sedang terluka. luka yang orang lain buat. maupun luka yang aku buat. aku sedang merobohkan dinding pertahananmu a man with a heart of a fragile little man, with all those scars and distrust. ya, hal terberat adalah meruntuhkan batasmu denganku: luka dan ketidakpercayaanmu. segala keraguanmu. terarah padaku. kucoba dengan segala cara; berjalan, berlari, merangkak, memanjat. berusaha menemukan setiap celah. …………………. lalu aku tergelincir di tempat yang sama di celah antara inti hatimu yang dibatasi keraguanmu kepadaku. sungguhpun kaki ini terluka, sakit karena harus melalui  segala rintangan itu entah mengapa aku masih berusaha. kulihat puncak gunung. kulihat ka...

bungkam rasa & aku

bungkam rasaku tuhan. matikan seluruh inderaku. karena seluruh inderaku mencintainya dengan cara-cara yang penuh pengabdian, sebuah ketulusan tanpa harap balas. mata. telinga. lidah. hidung. kulit. aku memandang, mendengar, mengecap, mencium, meraba - dengan penuh dengan menyeluruh dengan segenap. sosokmu. bungkam luapan rasa, buatku amnesia. bahkan dalam diam terlintas dia. sinis dan konyol. terlebat bayang demi bayang. bungkam rasaku: hanya ada ragaku rasaku yang waktu adalah luluhlantakkan utuhku yang olehmu - karenamu kulebur dalam sendu kuat terpagu. hanya ada ragaku rasaku yang waktu adalah luluhlantakkan untukku yang olehmu :karenamu kulebur dalam sendu kuat terpagu [gema dalam ruang sendu kalbu]

candu rindu

jika kerinduan adalah pemicu candu. maka biarkanlah aku menjadi candu. apalah dayaku. biarkan kerinduan ini menyiksaku, atau membuatku ‘terbunuh’ tidak ada yang mampu berkata tidak pada rindu. seperti kini aku. apalah dayaku? biarkan rindu memasuki tubuhku. membisikkan-nya pada jiwaku. biarkan rindu memasuki sel darahku, membius syarafku. jika rindu adalah morfin. maka biarkan sayang. biarkan aku terbius dan koma. jika rindu adalah adrenalin. biarkan darah terpompa pada jantungku. aku sekarat sayang. aku tersiksa rindu. jika saja aku mampu menyampaikan rasa rindu ini mungkin semua mudah, tapi tidak tanganku kelu. Bibir terpagut diam. aku sanksi kau merasakan yang sama. jika rindu ini adalah penjara, maka aku tahanan yang dihukum untuk selamanya. tapi biarlah mungkin tuhan sedang menghitung-hitung seberapa besar aku mampu menahan, seberapa kuat aku. biarkan rindu ini membunuhku, lalu jiwaku mati dalam diam. biarkan rindu ini...

malam, resah emosi jiwa adinda.

semarang, 25 mei 2016 12:17 am senjaku berbatasan dengan udara dan suara. kebisingan mengaum karena rindu yang begitu syahdu. lelakiku adalah kamu. adalah aku di antara mengagumi atau rasa ingin memilikimu tanda sudah dungu ataukah mati amygdala-ku sayang. semarang ambon dipisahkan kata-kata tak bersuara. aku ini wanitamu.yang mengagumimu. selayaknya laut dengan bena, dihembus sang angin. nirvana.ankara.buta suara.puisi-pusi yang tak pernah sampai di telinga.hilang di jurang gunung tertinggi hingga laut terdalam nusantara. judul: malam, resah emosi jiwa adinda.

DARI KURSI PENUMPANG TAXI

Image
Lampu jalanan kota menghantam jendela taksi malam ini, membuat aku terpaku, menatap malam di kota yang mereka sebut “kota bunga’ / Nampaknya malam ini dingin / embun dan kabut menghantam jendela kaca, pak supir bergegas menutup kaca, menyalakan pendingin mobil. Ada pengemis yang menatapku. / Setengah sayu, tapi juga terbakar sedikit semangat, walaupun tidak ditunjukkan oleh pengemis itu secara nyata. / Mungkin takut tidak menarik simpati dan utamanya empati. / Mungkin semangat yang timbul, itu karena ada harapan dalam penantian akan gemerincing kepingan-kepingan logam atau bunyi kertas yang bergesekan / Kertas yang tentunya bergambar pahlawan-pahlawan, yang dahulu tak menengadahkan tangan kepada yang memandang mereka rendah , ‘orang bawahan’ , tapi mereka dahulu menengadahkan pedang, bahkan tombak bambu kepada yang memandang ‘bawah’ mereka. Aku membuka kaca jendela sedikit, memberi recehan-recehan kembalian sisa beli satu cangkir cafee mocha tadi, recehan yang terselip-selip d...