DARI KURSI PENUMPANG TAXI
Lampu jalanan kota menghantam jendela taksi malam ini, membuat aku terpaku, menatap malam di kota yang mereka sebut “kota bunga’ / Nampaknya malam ini dingin / embun dan kabut menghantam jendela kaca, pak supir bergegas menutup kaca, menyalakan pendingin mobil. Ada pengemis yang menatapku. / Setengah sayu, tapi juga terbakar sedikit semangat, walaupun tidak ditunjukkan oleh pengemis itu secara nyata. / Mungkin takut tidak menarik simpati dan utamanya empati. / Mungkin semangat yang timbul, itu karena ada harapan dalam penantian akan gemerincing kepingan-kepingan logam atau bunyi kertas yang bergesekan / Kertas yang tentunya bergambar pahlawan-pahlawan, yang dahulu tak menengadahkan tangan kepada yang memandang mereka rendah , ‘orang bawahan’ , tapi mereka dahulu menengadahkan pedang, bahkan tombak bambu kepada yang memandang ‘bawah’ mereka. Aku membuka kaca jendela sedikit, memberi recehan-recehan kembalian sisa beli satu cangkir cafee mocha tadi, recehan yang terselip-selip d...