Posts

Showing posts with the label cerita

mari bercerita tentang apa saja #1

pada saatnya, kita akan dihadapkan pada hari-hari yang sulit. pada hari ketika hujan turun dengan lebat, hingga sepatu boots-mu tenggelam oleh air selutut. pada hari yang panas, menyengat bahkan saat payungmu terbuka lebar. pada hari yang melelahkan, ketika dokumen kantor menumpuk tak terhingga, hingga pandangan matamu terhalang kertas bertuliskan perintah pimpinan. pada hari yang memuakkan, ketika kau berhadapan dengan orang bebal yang tak bisa kau ajak bicara atau mendengar. pada hari dimana orang terdekatmu mungkin acuh dengan suaramu. pada hari dimana tangisanmu tak terdengar, tenggelam oleh  hiruk pikuk obrolan manusia-manusia di sekitarmu. pada hari-hari lain dimana semua terasa begitu menyulitkan. pada hari-hari itu, ingatlah ini: Baiklah, aku akan memberitahumu: hidup bukanlah tangga berlapis emas. ada paku payung di dalamnya, dan serpihan, dan papan-papan tua yang rapuh dan mencuat setiap kali kau injak, dan tempat-tempat tanpa karpet di lantai- Telanjang...

apa itu luka?

[ luka  /lu·ka /   1   n  belah (pecah, cedera, lecet, dan sebagainya) pada kulit karena kena barang yang tajam dan sebagainya: --  nya dalam dan mengeluarkan banyak darah;   2   v  menderita luka:  kakinya -- kena peluru;siapa -- siapa menyiuk, pb  yang merasa tersindir, dialah yang berbuat sesuatu sebagai yang disindirkan itu; - -- hati   ki  sakit hati;  -- parah  luka yang sangat berat (serasa hampir tidak tertolong); ] manusia dan luka adalah sebuah pola seperti manusia dan bahagia adalah juga pola kita hidup dalam aliran rasa kita menjalani hidup dengan pusaran rasa manusia adalah terbiasa menjadi luka dan luka adalah biasa biasa kita rasa mengerti dan memahami bahwa hidup tak selamanya suka hidup tak selamanya riang hidup tak selamanya bahagia begitupun sebaliknya: sejatinya, luka tak selamanya semuanya adalah pola kehidupan manusia adalah luka luka adalah kita manusia adalah bahagia...

sebuah akhir cerita tanpa pahlawan

ada luka disekujur hati. membuat setiap yang merasakannya seakan nantinya siap terbujur kaku. ada manusia yang sanggup membuat luka itu. ada orang yang sanggup menyakiti hati: yang selama ini berdoa sembari terdiam: menunggu berselimut janji. cerita hari esok tak ada lagi. seakan manusia itu mereka berjalan terseok-seok dalam luka, mengapa? mungkin karena tangan yang selama ini erat menggenggam langkahnya tak ada lagi. langkahnya goyah dimakan janji usia. semua yang mereka lakukan tujuannya hanya ingin menyingkirkannya. tidak ada lagi pertolongan di tengah malam. ceritanya membeku terbujur kaku. dia sekarat dibalik senyum manisnya. semua ucapan terimakasih tak ada lagi, pahlawannya meninggalkannya sendiri sekarat saat klimaks tiba. lalu menutup akhir cerita.

bungkam rasa & aku

bungkam rasaku tuhan. matikan seluruh inderaku. karena seluruh inderaku mencintainya dengan cara-cara yang penuh pengabdian, sebuah ketulusan tanpa harap balas. mata. telinga. lidah. hidung. kulit. aku memandang, mendengar, mengecap, mencium, meraba - dengan penuh dengan menyeluruh dengan segenap. sosokmu. bungkam luapan rasa, buatku amnesia. bahkan dalam diam terlintas dia. sinis dan konyol. terlebat bayang demi bayang. bungkam rasaku: hanya ada ragaku rasaku yang waktu adalah luluhlantakkan utuhku yang olehmu - karenamu kulebur dalam sendu kuat terpagu. hanya ada ragaku rasaku yang waktu adalah luluhlantakkan untukku yang olehmu :karenamu kulebur dalam sendu kuat terpagu [gema dalam ruang sendu kalbu]

sesederhana itulah adanya

tidak banyak kalimat panjang mampu menggambarkan yang tertulis ini. cukup rasakan, tentang percakapan kecil di penghujung malam atau hingga pagi menjelang. kadang serius. kadang candaan. sebanyak 'iya' untuk mengakhiri perdebatan. sedikit 'tidak' saat menahan kantuk karena masih ingin bertahan tersenyum. tidak banyak hal-hal penting yang dibicarakan. tidak ada seputar harga sembako;bukan pula perang; bukan pula romansa. hanya percakapan kecil. sarapan apa pagi ini? dengan siapa? apakah harimu menyenangkan? dan hal-hal konyol yang dialami hari ini. sederhana. tidak romantis. malah dibumbui saling meledek satu sama lain. tapi tidak. tentu saja tidak. tidak ada yang mampu  menggambarkan namun sesederhana itulah adanya: nyaman.

surat-surat untuk hati #4

Image
dear ---- . . . . matamu semburat jingga. lebih dari yang sanggup ditangkap kedua bola mata. berbeda dunia yang kau lihat dari sudut pandangmu. kau ceritakan dengan hati setiap kisahmu dengan cara-caramu sendiri. seperti gemerisik kecil di sabana. disaksikan palem dan akasia. setiap kali kau bercerita. kau tak tahu.tapi aku tahu. kagum. aku tak bisa lari.tapi aku terhempas maju,tak henti,menujumu. mrl / 29.2.16 / 12:53 am w.i.b //

surat-surat untuk hati #3: mengenai janji (manusia.bukan bajingan)

entah apa maksud tuhan menciptakan rasa cinta, rasa suka. sedangkan cinta itu datang bersama konsekuensi merasakan sakit. seperti manusia.berlagak tuhan, menciptakan janji mungkin mereka lupa atau sengaja secara sadar sepenuhnya melupakan bahwa janji  itu datang bersama ekpektasi dari orang yang dijanjikannya, manusia begitu mudah membuat janji, mereka lupa bahwa hal tersulit dari janji bukan mewujudkannya, tapi orang-orang yang mengharapkan janji tersebut terwujud. mungkin kita suka bicara manis, kita suka manis-manisnya gula di ujung lidah. bicara yang menyanjung-nyanjung. meninggikan setinggi-tingginya, kita suka dibuai angin. tidak perlu jadi manis.cukup jadi cukup. katakan tidak jika tidak, katakan iya jika iya. tidak ada sesuatu yang menggantung-gantung mampu menuntaskan rasa. kita manusia adalah kumpulan kata, kumpulan perbuatan. kumpulan pembuktian kita bukan bermain peran lakon dewa-dewi, dan berkuasa atas hati manusia lain. kita memang lemah ...

mengarang kita. aku dan kebodohanku.

apa yang aku lakukan? meneguk kepahitan yang sama lagi! bagaimana bisa seorang yang tampak seperti malaikat berubah menjadi seorang setan? aku membenci diriku yang tidak menangisi kepahitan yang aku rasakan aku malah menangisi-mu menangisi ketidakpedulianmu menangisi pekaknya dirimu terhadap setiap panggilanku menangisi ketika kau disakiti orang yang kau anggap lebih berharga dan patut didengar mereka yang menjerumuskanmu ke lembah para iblis semakin aku sendiri sakit, butuh waktu lama bagimu menyadarinya aku yang sadar, semakin lama aku kehilangan bagian diriku bagaimana bisa? aku merasa definisi 'kita' itu rangkaian huruf bodoh yang kukarang, menutupi kenyataan ada yang hanya menyebut dirinya sendiri. selalu. terulang. lagi dan lagi. tamparanku sendiri tidak menyadarkan diriku. dan aku mulai kehilangan yang aku anggap sebagai bagian dari kita, itu - aku.

siapa yang berani berkorban?

siapa sih yang ga takut pengorbanan? yakin kamu ga takut? kalau saya jujur selalu merinding membahas pengorbanan. buat yang setuju mungkin saat membaca ini kamu lagi anggukin kepala. yang bikin ketakutan itu adalah bahwa penyesalan dan pengorbanan punya titik temu yang sama: kehilangan. pernah ga sih kamu ngerasa takut akan kehilangan hal yang kamu cinta atau orang yang kamu cinta. dan itulah hal yang menakutkan buat saya. dan ketika saya dalam titik nadir itu every little things just seems like could hurt me so bad. its a hell, ketika mikirin akan kehilangan, ide akan pengorbanan seringkali ada dalam pikiran tapi bukan hal yag mudah mengubah 'kata menjadi nyata'. buat sebagian orang kehilangan itu lah pengorbanan. tapi mana yang lebih baik mempertahankan sesuatu yang dicintai atau berkorban untuk tidak lagi mempertahankan demi sesuatu yang dicintai? -16 Juni 2013-

social climber from twitter is coming to the town every year (day actually)

tweet sana tweet sini tweet itu tweet ini percakapan di sebuah kampus.... "akun twitter lo apa?" "xxxxxx" " ih followers lo dikit banget" "gue baru bikin" "kaya gue aja nih banyak followers nge tweet tweet galau gitu aja coba" seringkali mudah bagi kita menuliskan kata-kata di twitter, twitter membuat kita merasa paling bijaksana, penuh wawasan, juga membuat kepo tak terhingga. bahkan kepopuleran diraih lewat situs sosial, "since twitter come .everyone could act like prophet, some kind of ulama." tanpa sadar " we judging people from their tweet" "and we judgeg by our tweet ar avatar actually" dunia sosial media berpaling menjadi hidup nyata, dan hidup nyata menjadi dunia yang entah apa. social climb is cheaper since twitter. slogan itu pas banget kali ya harus jadi moto twitter baru. yes, mudah kayaknya buat banyak orang merasa oke dan menjadi top di twitter. karena society is...

1-2-3-4-5-6-7-8-9-10

she count to ten... 1... 2.. 3... 4... 5... 6... 7... 8... 9.. 10.. shit, and she still cant sleep... Alexa membuka matanya, menatap langit-langit yang diam bergeming... dia merasa malamnya masih panjang, sejujurnya hitungan kesepuluh itu adalah hitungan kesepuluhyang ke puluhan ribu kalinya dari puluhan ribu detik lalu.. artinya sudah sekitar +6 jam lebih berlalu, jam dindingnya menunjukkan angka 3, dan dia masih tidak bisa tertidur lelap... alexa bangkit, mendudukkan diri di pinggiran tempat tidurnya, meraih segelas air putih di dekatnya, kemudian mengambil sebatang rokok dan membakarnya... " kupikir, malam telah berlalu masih berapa lama lagi. aku harus menunggu?" alexa, wanita umur 30-an, super sibuk, dia benci kata menunggu. menurutnya apa sih yang bagus dari menunggu? dia selalu tepat waktu, tidak satupun waktunya terbuang percuma. menunggu baginya adalah hal yang paling buruk di dunia. Alexa benci menunggu tapi dia 'diharuskan' menunggu. ...

pecahan gelas

prang.............!!!! gelas-gelas kupecahkan lantai berharap mungkin serpihannya bisa mengobati perasaan yang terluka aku benci rasa ini: menahan tangisan yang menyesakkan dada sembari berjalan ke arah wastafel dan membasuh muka sekilas terlihat pecahan kenangan kemarin, pertengkaran yg tiada habisnya ... ketika tersadar hanya ada pecahan gelas saja... ya masih ada yang harus dibereskan setelah semuanya terobrak abrik tak mungkin begitu saja aku tinggalkan tak terurus.. lalu aku berhenti sejenak menyandarkan kepala di dinding "nanti dulu, biarkan aku beristirahat sambil berharap semuanya akan kembali baik" begitu saja dan kubiarkan pecahan gelasnya tergeletak di lantai....

lalu... pergi.....

pergi adalah hal tersulit. seringkali keputusan seseorang untuk pergi melukai. bukan hanya luka tapi tertinggal  rasa pahit yang tak tertahankan, pahit. semuanya karena hati yang mencintai adalah yang bisa merasa tersakiti. yang menjadi tersulit ketika pergi itu menjadi keputusan sebelah pihak; bisa juga pergi menjadi semakin sulit ketika dia pergi tanpa kata, atau ucapan "jaga dirimu baik-baik" atau sekedar senyum sebelum sepeninggal kenangan nantinya. apa yang kita tau tentang pergi. pergi ada hal tak terprediksi. dia seperti badai yang datang tanpa permisi. bagaimana seseorang mampu memprediksi ketika yang ada saat-saat itu adalah sosok yang kau tatap matanya yang di dalamnya penuh cinta tak terungkap kata, kau begitu yakin hari kita akan terus bersamanya. aku tak mungkin tanpanya! lalu jika dipikirkan hingga tak habis pikir bagaimana mungkin kita mampu 'pergi' saat dulu kita saling menebar kasih sehidup semati. mungkin jika waktu diputar kembali k...