Wednesday, June 29, 2016

good choices, bad choices, grown-up, whatever – ini judulnya titik


jadi hari ini  hujan turun, di samping saya segelas kopi, di depan saya laptop menyala, lalu tiba-tiba, bam! saya duduk memikirkan hidup saya a few years back.
nothing much changed.
selain saya sedang menempuh pendidikan magister, master, whatever they call it.
yang pasti berbeda adalah orang-orang baru yang saya temui.

lingkungan tempat tinggal  yang berbeda.
tantangan baru.

hanya saja kisah yang sama, dengan pemeran berbeda. kira-kira begitu jika saya disuruh memaparkan sinopsisnya.
----------
saya pikir semakin saya dewasa, langkah-langkah yang saya ambil akan mudah, ya karena begitulah, kita tumbuh dengan melihat orang dewasa pahlawan kita.

saat kita terjatuh, ada ayah yang akan menggendong kita dan mengatakan semua baik-baik saja.
saat kita sakit, ibu membuatkan bubur pandan beraroma khas kasih sayangnya.
kita punya saudara ataupun saudari untuk menertawakan hal bersama.

nyatanya yang saya alami itu di masa kecil. Bagi anak rantauan seperti saya hidup tumbuh jauh dari keluaga, membuat saya kehilangan momen-momen itu pada masa transisi.

tumbuh jauh dan belajar menjadi dewasa. hingga sekarang masih belajar. tapi menjadi dewasa tidak semudah itu, contohnya, bukan hal mudah menjadi sosok yang harus mandiri.

bertemu orang-orang – tidak mudah;   menemukan teman hingga kekasih mengajarkan begitu banyak hal. (kau bisa saja salah menentukan pilihan, but honey believe me there’s no undo button in life)

yang saya tahu pada saat ini: menjadi dewasa bukan hal mudah. menentukan pilihan sebagai manusia dewasa butuh mempertimbangkan logika, dan perasaan.
------
ketika kecil bagi saya rasanya perasaan memainkan peran besar dalam menentukan hampir semua pilihan keputusan dalam hidup.
mainan ini terlihat lebih menarik dibanding mainan di sebelahnya..
doll house is a match with barbie, but car  toys better than that pink barbie anyway.
------

nyatanya ketika tumbuh dewasa, segala pilihan yang saya ambil adalah konspirasi politik antara logika dan perasaan. landasan filosofis segala tindakan: moral. bukan lagi mengenai warna yang menarik atau suara yang memukau seperti saat memilih mainan.

menentukan pendidikan selanjutnya, menentukan pasangan yang diajak ke resepsi, memilih teman yang nyata dan yang tidak, bahkan memilih seseorang untuk diajak ke jenjang serius. lihat ini semua dari hal terkecil hingga terbesar butuh konspirasi dua hal tersebut di atas.
------
being a grown-up is hella all bout fuck up choices – literally fuck up. grown up world is full with ups and downs.  sometimes you met fake friends, you keep them, you forgot about your real friends out there.
sometimes you coupled with a dickhead, you love them, you ignored people that  loves you.
sometime we make good choices, sometimes we realize, sometimes were not.
logic play it part, but sure as a grown-up we forget feeling sometimes played its role disguise itself as logic.

but the in the end, all people said to follow your brain, listen to your heart, it keep you far away from bad choices (hell how I’m supposed to balance them both – if you ask me now I don’t have the answer too). well I don’t know the criteria for bad choices – good choices, but we will just know somehow, everyone has a different measurement, though mine is weird.


alright back to the topic, what i mean is,
yang saya maksud adalah sebagai orang dewasa, life wouldn’t always go easy on you. hidup itu memang ditakdirkan nampaknya punya kemiripan dengan skenario seperti dalam film, yang artinya; ada awal, klimaks, anti klimaks, tapiiii, jangan berharap pada happy ending, no no no. jelas kita hidup di dunia nyata bukan layar hijau editan CGI canggih milik studio hollywood.


dan saya sebagai orang yang (supposed to be, must be, should be) dewasa ditakdirkan mengambil pilihan-pilihan logis, terlepas ada tidaknya dukungan seseorang, melepaskan hal yang berbau perasaan terlalu dalam, menghindari menyakiti hati orang lain. why?  karena perasaan kita kadangkala dikalahkan logika orang banyak dan kewajiban menjaga perasaan orang banyak, that’s why yang berbau perasaan lebih banyak dilepaskan ketika dewasa.

----
dan dunia dengan segala dilema dan kebahagiaannya, harus saya hadapi mau tidak mau, sakit atau tidaknya.
saya tidak pernah dan memang tidak mengharapkan happy ending. saya hanya berharap saya pada akhirnya akan bisa berucap syukur no matter what happens dan jika saya menengok ke belakang a few years back once again, saya berharap saya tidak menyesali apapun pilihan yang saya ambil, dahulu, kini atau nanti and i hope to keep improve myself towards better life with my weird measurement.


semoga saja, ya semoga saja…
--------------
fyi yaaaang cukup panjang:
tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai panduan orang dewasa.
 tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai tulisan insprasional dengan judul how to get your life back on track.
tulisan ini bukan sindiran bagi siapapun juga.
tulisan ini bisa menyebabkan anda berpikir: damn is life as a grown up that bad? or hell no i love my life dude.
tulisan ini menyebabkan saya berpikir: whatever dude, also who even read this trash note blog whatever crappy shit of my writings.
well its okay dude, just get up, smoke whatever you smoke, drink whatever  you had on your hand now, and keep living this life, even though life kick you right in your butt.

*inhale good shit, exhale bad shit.
*ciao amigo…


---- orang dewasa yang entah sedang mabuk apa. 9: 07 pm, 29/6/2016. btv.



tawakal

karena sebagai manusia aku belajar.bahwa apa yang jadi jalan hidupku dan harapanku berserah pada rencanamu tuhan.

Tuesday, June 21, 2016

rihaku : memberi ruang untuk [surat surat untuk hati #5]

sayang...


banyak orang di luar sana mendesak-desak kekasihnya. memaksa saling bercumbu di tengah gelap malam.di antara sesak sempit dinding, mereka bersesak-sesak memaksakan ingin menyatu bagai kasur dan dipan.


sempit terhimpit


sayang...


banyak orang di luar sana berlesatan, lari-lari kecil menjadi panjang, mengejar harapan ataupun ilusi akan adanya harapan. mereka memaksa masuk lewat jalan apapun yang mereka bisa.


tertatih-tatih

///
tapi sayang,

mereka lupa memberi waktu, memberi ruang. kadangkala sepi memang butuh sendiri. sendiri merenungkan kesalahan-kesalahan. sendiri menikmati harapan-harapan. mungkin kita hanya lelah menginginkan hal-hal yang ada pada dunia.menggoda.merajam sendi-sendi hati.

ini yang aku lakukan kini sayang, aku dan diriku sendiri, menikmati kesepian, kerinduan, harapan-harapan. apa saja agar aku tidak ingin segera mati atau bunuh diri.seperti yang mereka bilang: menulislah dan jangan bunuh diri.

////

sebentar ...
biarkan aku matikan dulu lagi entah berapa batang rokok hari ini, berpuntung-puntung gambaran kegelisahanku.


sebentar tadi,
adalah ketika nanti kau baca surat ini lalu kau menertawakan kebodohanku, tak apalah.


dan ya....
sayang, aku pikir aku yang sedang memberi ruang dan jarak sedikit waktu ini hanya punya satu kelemahan: ketakutan.


ketakutan akan kemarin, hari ini, dan esok.

tapi biarlah kunikmati saja ketakutan ini, dan meredamnya agar dia tenggelam bersama hiruk pikuk waktu yang terus berdetik maju.


aku bukan pilihan

rasanya aku kini paham
dia sudah tahu pilihannya....
dari awal memang bukan aku


aku ini hanya sekedar pengisi kekosongan
waktu yang singkat takkan mungkin membuatmu jatuh cinta padaku
jelas ku bukan pilihan

sementara aku sedari awal memang tak pernah terpikir memintamu tinggal
aku sadar, terlalu takut menyatakan keinginanku untuk memilikimu
kamu sudah punya istana
kamu sudah punya sang ratu dan sang putri


walau hanya sejenak aku bersyukur menikmati waktuku
aku tak pernah menginginkan kemewahan yang kau beri pada mereka
sedikit dari yang kau beri, cukup, kusyukuri itu semua



hei, terimakasih untuk semuanya. bahagialah kau pantas berbahagia.

4:21 am masih yang sama,



rabu abu berdebu [yang berbeda]

mataku tak lagi memandangmu di sudut lain gaia.

telingaku tak lagi mendengar suaramu syahdu, merdu.

bibirku tak lagi mengucapkan kalimat-kalimat pengahantar tidur.



entah dimana letakmu.

Halo...
Aku ...
Rindu...
Rindu...
Yang..; tak berbalas - tak bersuara - tak berpandang - tak berasa sama.


aku terdiam, bagaimana ini? aku dan bagian terdalamku. yang mereka kenal sebagai LUBUK.

saling bertanya dan menjerit sendiri. pilu yang memekik.

apakah besok aku akan bangun dan merasakan kehampaan yang sama.lagi  lagi lagi.



[maafkan aku dan rinduku, mereka menyerang dengan kejam dan tanpa ampun.]

seseorang begitu berarti di rabu yang lalu.

tapi tidak hari ini dia hanya rabu yang abu dan berbedu.






















- batavia kemarin, hari ni dan mungkin esok hari, di sudut rindu mencoba menata hati. 2:18 am yang terasa panjang. sial!





candu rindu

jika kerinduan adalah pemicu candu.
maka biarkanlah aku menjadi candu.
apalah dayaku.

biarkan kerinduan ini menyiksaku, atau membuatku ‘terbunuh’
tidak ada yang mampu berkata tidak pada rindu.
seperti kini aku.
apalah dayaku?

biarkan rindu memasuki tubuhku.
membisikkan-nya pada jiwaku.


biarkan rindu memasuki sel darahku, membius syarafku.
jika rindu adalah morfin. maka biarkan sayang. biarkan aku terbius dan koma.

jika rindu adalah adrenalin.
biarkan darah terpompa pada jantungku.


aku sekarat sayang. aku tersiksa rindu. jika saja aku mampu menyampaikan rasa rindu ini mungkin semua mudah,
tapi tidak tanganku kelu. Bibir terpagut diam.


aku sanksi kau merasakan yang sama.

jika rindu ini adalah penjara, maka aku tahanan yang dihukum untuk selamanya.
tapi biarlah mungkin tuhan sedang menghitung-hitung seberapa besar aku mampu menahan, seberapa kuat aku.


biarkan rindu ini membunuhku, lalu jiwaku mati dalam diam.
biarkan rindu ini kembali pada asalnya, pada sang pencipta ilahi.

apalah dayaku.