Saturday, April 19, 2014

hanyalah curahan

ketidakpedulian dan keangkuhan, menyakitkan hati.
kadang yang kau anggap hal remeh adalah besar bagi orang lain.
engkau meminta diterima akan segala sikapmu, tapi kau tak pernah sadar betapa seringnya kau menyakiti orang lain.
perasaan bukanlah hal yang sepele.
jika perasaan adalah hal yang sepele, maka matikan saja hati pemiliknya.
tak sadarkah engkau ketika kau membuat komitmen maka kewajibanmu adalah menjaganya.


tapi kau tak sadar terlalu tak sadar.
dan inilah yang menyakiti hati orang lain.
begitu remehnya sesuatu bagi seseorang, namun di sisi lain hal itu begitu berarti

Wednesday, April 16, 2014

yang tak diketahui-nya

“It is a grave injustice to a child or adult to insist that they stop crying. One can comfort a person who is crying which enables him to relax and makes further crying unnecessary; but to humiliate a crying child is to increase his pain, and augment his rigidity. We stop other people from crying because we cannot stand the sounds and movements of their bodies. It threatens our own rigidity. It induces similar feelings in ourselves which we dare not express and it evokes a resonance in our own bodies which we resist.”
― Alexander Lowen, The Voice of the Body




dia menangis.
air matanya tidak terlihat.


sayapnya patah.
sayap-sayap yang tak berwujud.



hatinya patah.
berkali-kali.


tapi di depanmu,
dia hanya tersenyum dan tidak mengeluh.


selalu.