Tuesday, November 6, 2012

masih bisakah kata itu datang?

"Kadang-kadang Anda membutuhkan kesempatan kedua, karena waktu tidak siap untuk yang pertama."


Begitu inginnya kudengar kata itu.
Begitu inginnya mendapatkan kembali senyummu, yang belakangan ini makin memudar dari kepalaku, yang ingatannya mulai menua, kata mereka pikun.
Menemukan kaus kaki, kunci, dan dompet juga telepon genggam rasanya lebih mudah dibanding menemukan ingatan akan senyuman itu.

Selalu saja aku kehilangan fokus, tiap kali membaca buku, menulis dan ataupun menyetir kendaraan.
Menyalakan korek api saja sesulit memasukan benang ke jahit ke ruangan kosong di jarum yang kugunakan untuk menjahit.
Tangan gemetaran, bersamaan tiap detak.


Aku menghembuskan nafas lebih sering dari biasanya.......
Mungkin udara kota ini memburuk, alasanku pada diri sendiri.

Menengadahkan wajah ke arah langit, kebiasaan ini jadi kebiasaan baru,
Apa alasanku pada diri sendiri? tentu saja.....
aku takut ada air hujan jatuh melalui mata dan mengalir ke pipi. asin.
iya asin.


Hati ini berhenti di kamu, nafas ini, langkah ini.
Lalu kalau hatimu begitu keras untuk bilang "kumaafkan"
Bagaimana kabar hati nafas dan langkahku ini..


Semoga lagu yang kaubaca, musik yang kaudengar, batang sekian dari rokokmu, dan bergelas-gelas minuman yang kauminum, bisa membisikkan penyesalanku dan membawa maaf datang padaku dari sela-sela jendela kamar dan mungkin akan datang sms singkat bodoh bergambar :) dari nomormu yang kuhafal, selalu, hanya saja hilang tiap kali kucoba menekan tombol hijau itu.
AMIN

salam hangat,
dari seseorang yang selalu menunggu "maaf" datang mengetuk pintunya disela-sela harinya...

DARI KURSI PENUMPANG TAXI




Lampu jalanan kota menghantam jendela taksi malam ini, membuat aku terpaku, menatap malam di kota yang mereka sebut “kota bunga’ / Nampaknya malam ini dingin / embun dan kabut menghantam jendela kaca, pak supir bergegas menutup kaca, menyalakan pendingin mobil.

Ada pengemis yang menatapku. / Setengah sayu, tapi juga terbakar sedikit semangat, walaupun tidak ditunjukkan oleh pengemis itu secara nyata. / Mungkin takut tidak menarik simpati dan utamanya empati. / Mungkin semangat yang timbul, itu karena ada harapan dalam penantian akan gemerincing kepingan-kepingan logam atau bunyi kertas yang bergesekan / Kertas yang tentunya bergambar pahlawan-pahlawan, yang dahulu tak menengadahkan tangan kepada yang memandang mereka rendah , ‘orang bawahan’ , tapi mereka dahulu menengadahkan pedang, bahkan tombak bambu kepada yang memandang ‘bawah’ mereka.

Aku membuka kaca jendela sedikit, memberi recehan-recehan kembalian sisa beli satu cangkir cafee mocha tadi, recehan yang terselip-selip di sela-sela saku dompet. / Pengemis tersenyum dan berjalan kearah belakang , pada kendaraan-kendaraan yang juga korban jalanan, jalanan yang selalu saja menuntut kami mengantri, sabar ataupun tidak.

Sementara di sudut jalan yang sama, di atas trotoar yang lebar. / Sepasang sejoli memarkirkan motor. Tentu saja mereka sejoli. / Apalagi jika mereka bukan sejoli? / Motor terparkir di atas trotoar pojok yang luas itu, standar setengah motor diturunkan, mereka duduk di beton tinggi di atas trotoar itu , agak memojok. / Tentu saja merek saling menggenggamkan tangan dan memandang. / Romantisme ala pinggir jalan, tanpa lilin dan live music hanya iringan musik dari bunyi klakson yang kadang bersautan. / Aku memalingkan kepala kearah yang berlawanan dari sejoli itu, sengaja, tak ingin melihat lebih lama.

Aku meremas tanganku sendiri, menunggu warna hijau muncul, bukan karena terburu. Hanya saja tiba-tiba hatiku kebas. Biasanya malam-malam yang sama, dalam situasi yang sama, ada yang menggenggam tanganku seperti yang dilakukan oleh……………………………



AH SIALAN! Kenapa harus mengingat itu, sungguh tak ingin.
Hatiku berdetak, bagai diremas dan diiris sembilu. / Perasaan ini apa namanya ya? Oia, perih….
Kucoba merogoh tas tangan, mencari sebatang rokok yang mungkin saja masih tersisa, sialan, yang ada hanya bungkus kosong, kubanting bungkus rokok itu ke dalam tas lagi, kembali terpaku melihat lampu jalanan yang berseberangan dengan sejoli tadi.

*****Tin tin tin tin tin tin…******
Bunyi klakson berkali-kali dibunyikan oleh mobil di belakang.
Lamunanku seketika dibuyarkan. / Supir taksi menginjak gas, bukan karena dia juga terburu tapi karena ada setoran berikutnya menanti, searah dengan tujuanku, terbaca dari panggilan yang dijawabnya di radio komunikasi mobilnya. Dia makin bersemangat ingin sampai. /
“ Pak jalannya agak cepat ya pak, malam ini macet sekali, saya harus segera kembali ke apartemen saya…”
“Iya neng, siap. Maklum malam minggu, isinya plat huruf kedua alphabet kebanyakan, hehehe.”
Supir taksi tertawa, garing….
Aku juga tertawa, setengah memaksa….

Dan kemudian taksi biru muda ini melaju, meninggalkan pengemis yang kembali sayu di belakang, mobil di belakang yang juga tak sabar, dan pasangan yang duduk di pojokan trotoar, juga ditinggalkan di belakang….

Tapi tetap saja laju taksi tak mampu membuat hati yang teremas dan teriris sembilu itu tertinggal di belakang…….