Wednesday, October 24, 2012

(CINTA) yang menangisi LUKA



Sempat padanya (cinta) ku bertanya.
Gerangan apa dia  (cinta) menangis?
Jawabnya luka pergi dan menghilang.
Kutanya kemana?
Jawabnya tak tahu.
Aku merasa heran./Mengapa kau menangis? Harusnya kau bahagia./ Tak ada luka maka kau (cinta) akan menjadi utuh tak tergores, takkan pernah meneteskan air mata. /Takkan ada sedih hanya tawa.
Dia (cinta) diam dan tersenyum pahit.
Kau Tanya mengapa?
Jawabnya kau pun tahu, katanya: aku (cinta) takkan sempurna jika tak bersama luka./ Karena luka yang mengajarkan seperti apa aku (cinta) yang sesungguhnya./ Tanpa luka aku (cinta) hanya kepalsuan dibalik tawa, aku (cinta) takkan pernah tahu bagaimana cara bangkit dari keterpurukan./ Tanpa luka, aku (cinta) tak pernah sekuat ini.
Dia (cinta) balik bertanya. Kau tahu mengapa kau sekuat ini sekarang? Pernahkah kau sadar?
Karena ada aku (cinta) dan dia (LUKA)

No comments:

Post a Comment