Thursday, March 3, 2016

"Epilogue: Terimakasih Keikhlasan"


Resah malam ini, hela nafas  menunggu pagi.
Entah apa di otak-otak para seniman jalanan mereka tiada berhenti bernyanyi mengiringi hingga tiba pagi.
Zaman bergerak berubah sepertinya, diiringi senandung-senandung kecil mereka menggambar cerita.
Adalah samanya dengan jingga,dia selalu tampak berbeda.

Mega si mendung nampak lelah.
Oh,apa karena hujan kemarin tak henti turun membasahi bumi.
Nona manis duduk bersandar di jendela.
Yang dia temukan bajingan-bajingan menari di langit malam,menggantikan bintang,sebagian dari rindu yang tak tergapai.

[catatan kecil diujung senja]

untukku:

#yang indah seakan sempurna.namun bukan untuk dimiliki...   


untukmu:                               

~Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.
Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.
Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana.
Tere Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" ~

sebuah doa agar selalu selamat dan terimakasih untuk yang mengajarkan apa arti mengikhlaskan .sungguh. terima kasih.

No comments:

Post a Comment